[Pacarpeluk, Kabar NUP] – Warna
merah putih sebagai warna bendera atau panji-panji memiliki akar sejarah yang
panjang bagi kerajaan-kerajaan di Nusantara. Dwi warna itu dipilih sebagai
panji-panji kebesaran kerajaan pada waktu itu. Para pejuang muslim pada watu
itu juga telah familiar dengan panji-panji merah putih.
Guru Besar sejarah dari Universitas Padjajaran
Bandung, Mansyur Suryanegara menjelaskan bahwa semua pejuang Muslim di
Nusantara menggunakan panji-panji merah dan putih dalam melakukan perlawanan,
karena berdasarkan hadits Nabi Muhammad.
Imam Muslim berkata: Zuhair bin Harb bercerita
kepadaku, demikian juga Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Mutsanna dan Ibnu
Basyyar. Ishaq bercerita kepada kami. Orang-orang lain berkata: Mu’adz bin
Hisyam bercerita kepada kami, ayah saya bercerita kepadaku, dari Qatadah dari
Abu Qalabah, dari Abu Asma’ Ar-Rahabiy, dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah memperlihatkan kepadaku bumi, timur dan
baratnya, dan Allah melimpahkan dua perbendaharaan kepadaku, yaitu merah dan
putih. (Kitab Al-Fitan Jilid X, halaman 340 dari Hamisy Qastalani)
Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang-pejuang
Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan
putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari,
dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.
Pada Muktamar NU tahun 1937
silam, KH Hasyim Asyari mengusulkan Merah Putih menjadi warna bendera
Indonesia, dan Soekarno adalah pemimpinnya, sesuai pesan yang disampaikan oleh
Habib Idrus Salim Al Jufri kepadanya. Sang Habib tidak sembarangan dalam
menyampaikan pesan, namun berdasarkan pesan dari Rasulullah dalam mimpinya,
yakni jika Indonesia merdeka, maka warna benderanya adalah Merah Putih.
Habib Idrus Salim Al
Jufri adalah pendiri Al Khairaat di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Ia
juga meruapakan adik kelas dari pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari.
Ia dikenal dengan Sayyid Idrus bin Salim
Al-Jufri, lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman, 15 Maret 1892. Pada usia 12 tahun,
ia telah berhasil menghafal Alquran, 30 Juz. Ia mengembuskan napas terakhirnya
di Palu, Sulawesi Tengah, 22 Desember 1969, tepatnya di usia 77 tahun.
Habib Idrus Salim Al
Jufri merupakan tokoh pejuang di Provinsi Sulawesi
Tengah, dalam bidang pendidikan agama Islam. Sepanjang hidupnya, ia juga akrab
disapa Guru Tua, dan dikenal sebagai sosok yang sangat cinta ilmu.
Hal ini terlihat jelas saat ia mendirikan
lembaga pendidikan Islam Alkhairaat, sebagai tanda kasih nyata Habib Idrus,
kepada Islam. Alkhairaat didirikan di Palu, Sulawesi Tengah, saat usia Habib
Idrus menginjak 41 tahun.
Ia juga yang menginspirasi terbentuknya
sekolah di berbagai jenis serta tingkatan di Sulawesi Tengah, yang dinaungi
organisasi Alkhairaat. Dan terus berkembang di kawasan timur Indonesia.
Habib Idrus merupakan keturunan Rasulullah
dengan silsilah sebagai berikut: As-Sayyed Idrus bin Salim bin Alwi bin Saqqaf
bin Muhammad bin Idrus bin Salim bin Husain bin Abdillah bin Syaikhan bin Alwi
bin Abdullah At-Tarisi bin Alwi Al-Khawasah bin Abubakar Aljufri Al-Husain
Al-Hadhramiy yang mempunyai jalur keturunan dari Sayyidina Husain bin Fatimah
Az-Zahra Puteri Rasulullah SAW.
Kecintaan Sang Habib kepada negeri ini begitu
mendalam. Hal ini dapat dilihat dari syair berbahasa Arab yang dikarangnya.
Inilah terjemah syair Kemerdekaan Republik Indonesia yang disusunnya, ketika
menyambut Proklamasi, 17 Agustus 1945:
Bendera kemuliaan berkibar di
angkasa, hijau daratan dan gunung-gunungnya
Sungguh hari kebangkitannya
ialah hari kebanggaan, orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya
Tiap tahun hari itu menjadi
peringatan, muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya
Tiap bangsa memiliki simbol
kemuliaan, dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih
Wahai Sukarno! Telah kau
jadikan hidup kami bahagia, dengan obat darimu hilang sudah penyakit kami
Wahai Presiden yang penuh
berkah bagi kami, engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat
Dengan perantara pena dan politikmu
kau unggul, telah datang berita engkau menang dengannya
Jangan hiraukan jiwa dan
anak-anak, demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu
Gandengkan menuju ke depan
untuk kemuliaan dengan tangan-tangan, tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para
pemimpin
Pasti engkau jumpai dari rakyat
kepercayaan, dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin
Makmurkan untuk Negara
pembangunan materil dan spiritual, buktikan kepada masyarakat bahwa engkau
mampu
Semoga Allah membantu
kekuasaanmu dan mencegahmu, dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh
Paparan ini semakin menegaskan bahwa peran dan jasa umat Islam, khususnya para ulama, sangat besar bagi kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, ingatlah Jas Hijau! Jangan sekali-kali menghilangkas jasa ulama! {abc}

0 Komentar