![]() |
| Deklarasi Gerakan Pacarpeluk Bersedekah, Ahad, 21 Mei 2021 |
Dimuat dalam NU Online Rabu, 10 Januari 2018 10:00
[Pacarpeluk, NUP] - Upaya mewujudkan kemandirian, Pengurus
Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pacarpeluk, Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa
Timur menggulirkan Gerakan Pacarpeluk Bersedekah. Bernaung
di bawah Unit Pengelolaan Zakat Infak dan Sedekah (UPZIS) NU Pacarpeluk,
program dilakukan dengan menempatkan kaleng-kaleng sedekah di rumah warga dan
menyarankan agar setiap harinya penduduk setempat menyisihkan koin senilai 500
ke dalam kaleng tersebut.
Kini dalam setiap bulan berhasil dikumpulkan
tak kurang dari 5 juta rupiah dari 600 kaleng koin NU tersebut dengan beragam
pemanfaatan yaitu santuan duka, jaminan pengobatan rawat jalan dengan Kartu
Pacarpeluk Sehat, santunan persalinan bagi keluarga kurang mampu, jenguk
keluarga sakit berupa sumbangan dana bagi keluarga yang sakit, dan program
peduli bencana.
Keberhasilan program tersebut tidak lepas
dari kerja sama seluruh pihak dan dorongan pengurus PRNU Pacarpeluk dalam
menggerakkan semangat berzakat, infak, dan sedekah warga Pacarpeluk. Selain itu
ada prinsip-prinsip yang terus dijaga untuk memperkuat program. Tak luput
sejumlah tantangan juga harus dihadapi terutama di awal digulirkannya program.
Berikut wawancara wartawan NU Online Kendi
Setiawan dengan Ketua PRNU Pacarpeluk Nine Adien Maulana terkait program yang
juga menjadi unggulan PRNU Pacarpeluk tersebut.
Apa yang sebenarnya mendasari program
tersebut?
Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya
informasikan bahwa kepengurusan ranting NU Pacarpeluk selama ini vakum. Ada
kepengurusannya, namun tidak ada kiprahnya dalam masyarakat secara nyata. Hal
ini disebabkan oleh ketidakmampuan saya menggerakkan organisasi dari sisi yang
mana untuk mengawalinya.
Saya tidak percaya diri menggerakkan
organisasi ini, karena selama ini masyarakat awam mengenal organisasi ini
sebatas iuran dan iuran. Bagi saya ini adalah citra yang tidak mengenakkan.
Masyarakat belum pernah merasakan manfaat nyata yang diperoleh dari organisasi
ini.
Keterpurukan ini mengalami titik balik,
setelah NU Care-LAZISNU Jombang mengadakan sosialisasi ke MWCNU Megaluh tentang
pendirian UPZISNU di tingkat MWC dan Ranting. Berangkat dari forum itulah saya
selaku Ketua PRNU Pacarpeluk merasa ada semacam ‘ilham’ untuk menggerakkan
organisasi ini secara nyata melalui pengelolaan Zakat, Infak dan Sedekah
(ZIS).
ZIS adalah potensi ekonomi umat Islam. Ini
adalah potensi kemandirian yang nyata. Jika NU bisa mengelolanya secara
kreatif, amanah dan profesional maka kemandirian jamaah dan jamiyah NU pasti
bisa diupayakan dengan segera. Saya meyakini hal ini menjadi pintu awal mengerakkan
jamaah dan jamiyah NU secara simultan-mutual.
Saya segera mengumpulkan pengurus PRNU
Pacarpeluk untuk yang pertama kali setelah lebih dari tiga setengah tahun
turunnya SK kepengurusan PRNU Pacarpeluk. Kami sepakat menggerakkan jamiyah
warisan para kiai ini dengan cara mendirikan, membuat kepengurusan dan
mengoperasikan UPZISNU serta merancang program-program penyalurannya.
Penggalian dan pengelolaan dana sedekah
sukarela dari masyarakat Pacarpeluk adalah gerakan pertamanya. Kami menawarkan
dan mengajak masyarakat Pacarpeluk untuk menyisihkan uang koin Rp500, (lima
ratus rupiah) tiap hari untuk dimasukkan dalam kaleng koin sedekah yang kami
berikan kepada mereka secara cuma-cuma. Kaleng-kaleng itu kami beli dari NU
Care-LAZISNU Jombang seharga Rp10.000, (sepuluh ribu rupiah) per kaleng.
Agar menarik perhatian dan minat, serta
keingintahuan masyarakat, kami melabeli aksi perdana ini dengan Gerakan
Pacarpeluk Bersedekah (GPB). Dengan demikian GPB sebenarnya merupakan
upaya branding terhadap UPZISNU Pacarpeluk yang baru lahir dan
beroperasi.
Seberapa penting menggerakkan program
tersebut?
Sebagaimana yang telah saya sampaikan tadi,
ZIS adalah potensi ekonomi umat Islam yang nyata. Ini adalah potensi
kemandirian yang nyata. Sayangnya selama ini potensi itu belum dikelola dan
dimanfaatkan secara nyata oleh NU. ZIS di kalangan masyarakat NU hanya
dilaksanakan secara individual atau kelompok terbatas. Jika NU bisa
mengelolanya secara kreatif, amanah dan profesional maka kemandirian jamaah dan
jamiyah NU pasti bisa diupayakan dengan segera. Ini bukan retorika, tapi
benar-benar menjadi aksi nyata yang benar-benar bisa dirasakan
manfaatnya.
Tanggapan masyarakat seperti apa?
Masyarakat Pacarpeluk itu majemuk. Memang
mayoritas adalah warga dengan kultur Nahdliyin. Namun, ada juga
jamaah LDII, Shidiqiyyah, Muhammadiyah, kelompok awam abangan dan warga yang
beragama Kristen.
Pada awalnya mereka juga menanggapi
aksi Gerakan Pacarpeluk Bersedekah melalui Kaleng Koin Sedekah
ini secara beragam. Ada yang langsung menerimanya dengan sukarela setelah
mendapat penjelasan tentang rancangan penyaluran dana sedekah itu. Ada yang
meragukannya karena trauma dengan program jimpitan yang dulu pernah dilakukan,
namun tidak jelas pengelolaannya hingga akhirnya berhenti tanpa ada pertanggungjawaban
publik.
Ada juga yang khawatir jika hasil sedekah ini
hanya digunakan secara eksklusif untuk organisasi NU saja. Ada juga yang
mencibir dan memprovokasi masyarakat untuk tidak ikut serta menjadi
donator (munfiq)Gerakan Pacarpeluk Bersedekah. Biasaya mereka
menebarkan cibiran dan provokasi ini di warung-warung kopi dan di tempat-tempat
tongkorongan.
Kendala apa yang dihadapi?
Keragaman tanggapan masyarakat itu tentu
menjadi kendala bagi PRNU Pacarpeluk dan UPZISNU-nya dalam merintis Gerakan
Pacarpeluk Bersedekah. Dengan telaten para pengelola, menjelaskan
berbagai keraguan yang disampaikan masyarakat yang beragam itu. Kami terus
membangun citra positif untuk meraih kepercayaan (trust) masyarakat
dengan menempatkan orang-orang yang ‘terpandang’ sebagai pengelolanya.
Selain itu upaya sosialisasi melalui
pendekatan agama juga dilakukan. Mimbar khutbah Jumat, Idul Fitri, majelis
talim dan dzikir serta penampilan virtual melalui internet menjadi media yang
sangat efektif menjawab keraguan masyarakat dan mengokohkan citra positif
itu.
Terhadap masyarakat yang mencibir dan
memprovokasi negatif, kami tidak meresponsnya melalui retorika, namun kami
buktikan secara nyata melalui program-program penyaluran. Ketika kami
merealisasikannya, apalagi yang menerima dan merasakannya adalah anggota
keluarga mereka, maka akhirnya mereka pun bungkam dengan
sendirinya.
Target jangka panjang atau target besarnya
seperti apa?
Kami telah beroperasi selama enam bulan. Kami
telah meraih kepercayaan dari masyarakat. Dalam kurun waktu itu kami telah
mampu mengumpulkan koin sedekah lebih dari empat puluh dua juta. Kami juga
telah menyalurkannya sesuai dengan program-program penyaluran yang telah
dirancang.
Kini di tahun 2018 ini kami ingin mengajak
masyarakat merintis upaya pengelolaan zakat maal. Kami mulai mengampayekan
kewajiban mengeluarkan zakat maal. Kami mengajak masyarakat untuk
menyalurkannya kepada UPZISNU Pacarpeluk.
Bagi kami infak dan sedekah yang telah
berjalan adalah latihan berzakat yang berhukum wajib. Kami tidak ingin berhenti
hanya pada upaya fundring infak dan sedekah yang berhukum
sunah. Apa yang telah kami lakukan adalah bagian dakwah dengan sasaran untuk
melaksanakan kewajiban berzakat.
Kami tidak ingin hanya berhenti pada ranah
ekonomi semata, karena bagaimanapun juga ZIS adalah bagian dari syariat yang
harus didakwahkan dan dilaksanakan sebagai bentuk peribadatan kepada Allah
SWT.
Selain itu, kami sedang merancang pengelolaan
ZIS itu untuk pengembangan ekonomi produktif pada sektor riil. Dengan cara itu
kemandirian NU baik secara jamaah maupun jamiyah tidak sekadar menerima,
mengadministrasi dan menyalurkan. Kami juga ingin bisa memproduksi dan
mereproduksi secara aktifi dalam sektor ekonomi riil. Perdagangan dan pertanian
menjadi rancangan pengembangannya.
Untuk meralisasikannya kami masih mematangkan
konsep sambil terus mencari referensi best practice. Kami tidak
ingin berspekulasi yang terlalu tinggi dalam hal ini sebab kami sadar bahwa ini
bukan dana biasa. Ini adalah dana umat melalui ZIS yang diamanahkan kepada
UPZISNU Pacarpeluk dengan niat ibadah.
Prinsipnya kami ingin mengembangkannya secara halal, aman, dan cepat perputaran modalnya. Jika hal ini bisa dilakukan maka upaya saling menghidupi jamaah dan jamiyah benar nyata, bukan sekadar retorika. Akhirnya, kebangkitan kembali NU secara jamaah dan jamiyah tinggal menunggu waktu secara pasti, karena ini bukanlah ilusi. {abc}

0 Komentar