![]() |
| Relawan NU Care-Lazisnu Pacarpeluk mengantarkan makanan siap saji untuk warga dhuafa dalam Gerakan Bahagia Bersama Tetangga 2021. |
[Pacarpeluk,
Kabar NUP] - Salah satu doa Rasulullah Muhammad
SAW yang secara khusus memberi penghormatan kepada orang miskin adalah allaahumma
ahyinii miskiinan waamitnii miskiinan wahsyurnii fiizumrati masaakina yaumal
qiyamah. Artinya adalah Ya Allah hidupkan aku sebagai orang miskin dan
matikan aku sebagai orang miskin serta kumpulkan aku bersama orang-orang miskin
pada hari kiamat.
Rasululah Muhammad SAW sebenarnya bukanlah orang yang miskin,
beliau berharta banyak. Setidak-tidaknya hal itu bisa dilihat dari nilai mahar
yang beliau berikan kepada para istri beliau yang jika dirupiahkan jumlahnya
sangat fantastis. Namun, beliau memilih jalan hidup sangat sederhana, sehingga
bisa merasakan secara langsung apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin.
Siapakah sebenarnya orang yang miskin itu, sehingga Rasulullah SAW
sedemikian mengistimewakannya. Ternyata yang dimaksud dengan miskin bukanlah
sekadar orang yang lemah ekonomi, tidak memiliki harta, tidak mampu makan
karena tidak ada yang dapat dimakannya. Di dalam kata miskin yang dimaksud oleh
Rasulullah SAW terkandung makna kehormatan karena malu menjadi menjadi
peminta-minta. Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari nomor 1476, beliau
menjelaskan bahwa orang miskin itu bukanlah orang tidak menolak satu atau dua
suap makanan. Akan tetapi, miskin adalah orang yang tidak punya kekayaan,
lantas ia pun malu atau tidak meminta-minta dengan cara memaksa.
Dengan demikian, tidak sepatutnya kata miskin diasosiasikan kepada
pengemis, peminta-minta yang ada di pinggir-pinggir jalan, karena orang-orang
ini sangat dikecam oleh Islam. Meskipun orang miskin itu lemah dan tak
berharta, namun mereka malu melakukan tindakan hina yang dikecam itu.
Doa Rasulullah SAW itu bisa juga dipahami sebagai bentuk kehadiran
dan kepedulian beliau kepada orang-orang lemah semacam itu. Maknanya adalah
bahwa orang-orang yang kaya dan mampu harus proaktif mencari dan membersamai
orang-orang miskin untuk berbagi dan peduli. Datangilah mereka, lihatlah
keadaaannya, dengarlah curahan hati mereka dan berbagilah kepada mereka.
Dengan cara semacam ini, mereka akan merasa tetap dihargai dan
dimanusiakan. Bentuk kepedulian yang diterimanya menjadi sangat berarti untuk
menghadapi kehidupannya dengan penuh semangat untuk mengubah keadaan yang
dialaminya. Hal ini tentu sangat berbeda dengan mental pengemis atau
peminta-minta, yang menjadikan kemiskinannya dan kelemahannya sebagai komoditas
untuk mendapatkan belas kasihan dan pemberian dari orang lain.
Berbagi dengan orang miskin dengan demikian tidak semata-mata
memberi. Berbagi juga bukan sekadar mengeluarkan sebagian harta kepada
pihak-pihak yang berhak menerimanya (mustahiq zakat) yang jika tidak
dikeluarkan akan menghilangkan keberkahan harta. Lebih jauh lagi, ia harus
terencana secara matang sehingga bentuk kepedulian dan pemberian tepat guna dan
tepat sasaran. Jika hal ini dilakukan, maka berbagi semacam ini menjadi wasilah
mengangkat harkat dan derajat kehidupan mereka menjadi lebih baik daripada
sebelumnya. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam menyantuni
orang-orang miskin.
Kandungan makna ini berlaku umum baik bagi individu dalam
mengeluarkan zakat, infak dan sedekahnya maupun, terlebih, kelompok yang
mengelola dana sosial itu. Badan dan Lembaga Amil Zakat yang berada dalam
masyarakat harus menangkap pesan dalam doa Rasulullah SAW itu kemudian
diterjemahkan dalam bentuk program kepedulian kepada orang miskin secara
kreatif, tepat guna dan tepat sasaran.{abc}
Oleh:
Nine Adien Maulana (Ketua PRNU Pacarpeluk)

0 Komentar