![]() |
| Mbah Munarah berbagi cerita pengalamannya menjadi donatur Gerakan Pacarpeluk Bersedekah. Wawancara ini dilakukan sebelum terjadinya Pandemi Covid-19. |
[Pacarpeluk, NUP] – Mbah Munarah,
demikian perempuan paruh baya ini biasa dipanggil. Ia tinggal di dusun Pacar
desa Pacarpeluk. Di saat musim pemeliharaan tanaman padi, ia ikut bekerja dadak (mencabut dan membersihkan rumput yang ada di antara tanaman padi) di
sawah.
Saat Kabar NUP bertandang ke
rumahnya, ia baru saja datang dari sawah. Pakaian yang dikenakannya masih
berlepot tanah lumpur sawah. Begitu juga dengan kedua kakinya. Ia pun minta
waktu sebentar untuk mandi agar nyaman menemui tamunya itu.
Mbah Munarah adalah salah satu warga Pacarpeluk
yang istimewa. Meskipun hidup pas-pasan, ia adalah salah satu donatur tetap NU
Care-LAZISNU Desa Pacarpeluk sejak dideklarasikannya Gerakan Pacarpeluk
Bersedekah pada 21 April 2017 hingga sekarang.
"Lha nek mung limangatusan ben dino,
kulo ngge mboten kabotan. Kulo ngge pingin nggolek sangu mati. (Jika hanya mengisi Lima Ratus Rupiah sehari,
maka saya ya tidak keberatan. Saya ingin mencari bekal mati. )",
kenang Sri Utami, relawan NU Care-LAZISNU Desa Pacarpeluk menirukan
ucapan perempuan tua itu saat pertama kali minta kaleng sedekah yang
dikelolanya. Sejak saat itulah Mbah Munarah rutin tiap hari mengisi kaleng koin
sedekah dari sisa uang belanja.
Tiap bulan relawan lembaga ini mengunjungi rumah perempuan yang tidak memiliki anak
itu, untuk mengambil sedekahnya. Kaleng koin sedekahnya itu selalu terisi.
Meskipun jumlahnya bervariasi tiap pengambilan, namun ia terus istiqomah
mengisinya sesuai dengan kemampuan.
Sebagai donatur (munfiq) Mbah Munarah
termasuk salah seorang penerima Kartu Pacarpeluk Sehat (KPS). Dengan kartu ini,
ia bisa berobat rawat jalan di Klinik Pratama Madinah tanpa dikenakan biaya,
karena telah ditanggung melalui pengelolaan hasil koin sedekah itu.
Saat ditanya apakah sudah pernah memanfaatkan
kartu itu untuk berobat, jawaban Mbah Munarah sangat mengagetkan. "Kulo
dereng nate ndamel kartu niku. Alhamdulillah wiwit melu sedekah kulo sehat
mboten nate sakit. Rejeki kulo lancar, alhamdulillaah. (Saya belum
pernah menggunakan kartu itu. Alhamdulillaah sejak ikut bersedekah saya tetap
sehat, belum pernah sakit. Rezeki saya juga lancar.", jelasnya
dengan polos.
Kisah Mbah Munarah ini memberi pelajaran
kepada siapa saja bahwa berbagi melalui sedekah adalah kemuliaan. Balasannya
adalah urusan Allah swt sendiri kepada hambaNya. Ada berbagai cara unik Allah
SWT membalas sedekah hambaNya. Ia memberi kesehatan kepada Mbah Munarah,
sehingga ia tidak perlu menggunakan KPS yang dimilikinya. Meskipun bekerja
serabutan, ia merasakan bahwa rezekinya selalu lancar.
Sedekah memang ungkapan syukur kepada Allah
SWT yang penuh keajaiban. Siapa yang mau bersyukur, pasti akan mendapat
tambahan nikmat yang lebih. Siapa yang tidak mau bersyukur, maka Allah SWT
mengambil nikmat itu dengan berbagai caranya.
Jika Mbah Munarah telah membuktikan keajaiban itu, maka apakah hal ini masih tidak menggerakkan kita untuk bersama-sama ambil bagian sebagaimana yang dilakukan oleh Mbah Munarah itu? Tunggu apa lagi, mari membuktikan sendiri keajaiban itu pada pada kehidupan kita masing-masing, sebelum akhirnya tinggal penyesalan yang tiada bermakna! {abc}

0 Komentar